Negara Islam Vs Negara Kafir-1

Mei 24, 2010 at 3:43 am Tinggalkan komentar

Sebagian orang yang tidak memiliki pengetahuan tentang agama ini tidak malu dan memberanikan diri berbicara tentang permasalahan yang sangat besar. Mereka mendefinisikan negara Islam menurut hawa nafsunya. Mereka melontarkan syubhat yang membuat keraguan dan melemparkan kedustaan yang membingungkan. Mereka mengambil dalil-dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah semaunya dan mereka pahami seenaknya tanpa mengembalikan permasalan ini kepada para ulama’ yang telah diakui keilmuannya oleh kaum muslimin. Sehingga mereka menyalakan api kerusuhan yang menggoncang keamanan kaum muslimin. Mereka mengkafirkan pemerintahan Islam dan menyebut kesalahan-kesalahan pemimpin di atas mimbar, sehingga rakyat tidak lagi memiliki kepercayaan terhadap pemerintah yang mengakibatkan terjadinya demonstrasi, perusakan, pembunuhan dan pengeboman. Mereka mengira baik prasangka mereka bahkan menganggap tindakan mereka adalah jihad fi sabilillah untuk meninggikan bendera Islam. Namun sayang seribu sayang!!! Islam mengecam tindakan mereka, bahkan berlepas diri dari mereka dan apa yang mereka perbuat.

Maka dalam upaya menyingkap topeng mereka dan menepis kedustaan-kedustaan mereka serta menjelaskan kebenaran tentang definisi negara Islam, kami hadirkan di hadapan rekan-rekan Pengajian Bahrain makalah yang berjudul “Negara Islam VS Negara Kafir” yang kami ringkas dari tulisan guru kami Fadhilatul Ustadz Abdurrahman Toyyib hafidhohullah. Semoga menjadi air yang menyegarkan rasa haus orang-orang yang mencari kebenaran dan sekaligus menjadi obat yang menyembuhkan hati orang-orang yang mau kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah sesuai dengan pemahaman Salaful Ummah.Sesungguhnya diantara yang membuat Islam menangis adalah keekstriman sebagian pemuda Islam dalam hal yang amat berbahaya. Suatu hal yang menyebabkan umat terjebak di dalam api fitnah yang membara, dan menjadikan mereka santapan yang empuk bagi musuh-musuh Islam, serta menjadikan umat semakin menderita dan terhina. Diantara permasalahan tersebut adalah apa yang telah dijelaskan para fuqoha’ tentang pembagian negara menjadi dua: Negara Islam dan Negara Kafir. Dan masing-masing memiliki ciri khas dan hukum tersendiri untuk membedakan mana negara Islam dan mana negara kafir. Sebagian orang-orang yang bodoh tersebut menyatakan bahwa kebanyakan negara-negara Islam sekarang yang berhukum dengan undang-undang buatan manusia adalah negara kafir. Dari pengkafiran yang membabi buta inilah, muncul seruan jihad untuk memerangi orang-orang Islam sendiri dan menghalalkan darah, harta serta kehormatan mereka. Dan mereka sebenarnya secara tidak sadar telah menapaki jejak “Khowarij” bukan jejak ahlu sunnah, meskipun mereka sendiri tidak mau dicap sebagai Khowarij.

Sesungguhnya tidaklah benar jika berhukum dengan undang-undang buatan manusia dijadikan tolak ukur untuk memvonis suatu negara muslim atau kafir. Hal ini menyelisihi nash-nash syari’at, serta manhaj ahlu sunnah dan kesepakatan ulama’ kaum muslimin dari semua madzhab (empat madzhab).T

OLAK UKUR NEGARA ISLAM DAN KAFIR

Kekuasaan kaum muslimin atau kaum kafir atas suatu negara adalah tolak ukur negara itu negara itu itu Islam atau kafir. Adapun ciri-ciri yang lain berikutnya, seperti: Keamanan atau ketakutan, penerapan hukum Islam atau hukum selain Islam. Empat Madzhab sepakat, bahwa suatu negara menjadi negara Islam apabila dikuasai kaum muslimin; sehingga mereka bisa menampakkan hukum-hukum Islam serta menolak musuh-musuh mereka. Hal tersebut bisa terjadi dengan cara penaklukan atau perdamaian, baik semua penduduknya muslim atau kafir, seperti negeri yang dihuni oleh kaum kafir dzimmi (dilindungi).

Yang perlu diketahui, bahwa yang dimaksud menampakkan hukum-hukum Islam, adalah menampakkan syiar-syiar Islam, seperti: sholat, jum’at, Iedul Fithri, Iedul Adha, puasa Ramadhan, haji tanpa adanya larangan dan kesulitan. Dan bukanlah semua hukum Islam harus ditegakkan.Tapi bukan berarti kita tidak setuju dengan penerapan hukum Islam secara keseluruhan, karena Allah telah memerintahkan kita untuk masuk Islam secara keseluruhan. Namun permasalahannya sekarang adalah bagaimana kita menghukumi sesuatu dengan adil. Misalnya: ada orang minum minuman keras, apakah kita harus mengkafirkan orang itu karena dia telah melanggar syari’at Islam?! Atau kita mengatakan: ia adalah orang Islam, namun ia telah melakukan kesalahan.

DALIL DARI HADITS NABI SHALLALLAHU ALAIHI WASALLAM

Dari Buraidah rodhiyallahu anhu -ketika Rosulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan pasukannya untuk berjihad memerangi kaum musyrikin – beliau bersabda: “Serulah kepada mereka kepada Islam, jika mereka sepakat,
maka terimalah dan janganlah perangi mereka. Lalu serulah mereka untuk berpindah dari negeri mereka ke negeri Muhajirin. Beritahukan kepada mereka, bahwa apabila mereka melakukan hal itu, maka mereka memiliki hak dan
kewajiban seperti orang-orang muhajirin.” (HR. Muslim:1731)

Di dalam hadits ini, Rosulullah shallahu alaihi wasallam menisbatkan suatu negeri kepada Muhajirin, karena keberadaan dan kekuasaan mereka di sana. Dan beliau memerintahkan mereka untuk pindah dari negeri yang kekuasaannya bukan di tangan kaum muslimin, menuju negeri yang kekuasannya di tangan kaum muslimin. Hal ini menunjukkan bahwa negeri yang di bawah kekuasaan kaum muslimin, maka negeri itu adalah negeri Islam.Syaikhul Islam rohimahullah berkata: “Suatu tempat dikatakan negara kafir, jika dihuni oleh orang-orang kafir. Lalu negara itu bisa berubah menjadi
negara Islam, jika penduduknya masuk Islam, seperti Makkah dahulu yang awalnya adalah negara kafir.” (Majmu’ al Fatawa, 27/143)

Dari Anas bin Malik rodhiyallahu anhu berkata: “Dahulu Rosulullah shallallahu alaihi wasallam menyerang (musuh) ketika adzan dikumandangkan. Jika beliau mendengar adzan, maka beliau tidak jadi menyerang. Tapi jika tidak terdengar adzan, maka beliau akan melancarkan serangan.” (HR. Bukhori:610, Muslim:1365)

Di dalam hadits ini terdapat dalil yang jelas, bahwa nampaknya syiar-syiar Islam, sudah cukup untuk menghukumi suatu tempat sebagai negeri Islam. Dan syiar-syiar ini termasuk koksekuensi adanya kekuasaan tempat tersebut, seperti yang telah dijelaskan. Ibnu Hazm rohimahullah berkata: “Suatu negara itu dilihat dari kekuasaan, mayoritas (penduduknya), dan penguasa atau pemimpinnya.” (lihat Al Muhalla:13/140)

Al Hafidz Abu Bakar Al-Isma’ili rohimahullah berkata: “(Ahlu Sunnah) berpendapat, bahwa negara itu negara Islam bukan negara kafir sebagaimana yang dikatakan oleh Mu’tazilah, selama adzan untuk sholat masih dikumandangkan, dan penduduknya masih berkuasa dan terjamin keamanan.” (I’tiqod Ahli Sunnah: 10/114)

Priagung Rajasa Nagara Al-Atsary

Iklan

Entry filed under: Tak Berkategori.

Keutamaan Ridho Kepada Allah, Rasul dan Agama Islam Jauhi Pertanyaan dan Perbuatan yang Berbau Adu Domba…!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Beranda

Kalender Ku

Mei 2010
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Kategori

Arsip Artikel

Download


%d blogger menyukai ini: